fbpx

Obesitas, Musuh Utama Manusia!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Obesitas merupakan penyakit yang masuk dalam kategori Penyakit Tidak Menular atau Non-Communicable Disease. Non-Communicable Disease sendiri adalah penyakit yang tidak dapat tertular dari satu orang ke orang lainnya. Adapun contoh Non-Communicable Diseases lainnya adalah penyakit kardiovaskular (seperti stroke atau sakit jantung), kanker (seperti kanker payudara atau kanker serviks), penyakit pernapasan kronis (seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis) dan diabetes mellitus.7 Menurut P2PTM Kementrian Kesehatan Indonesia, Obesitas merupakan kondisi dimana terjadinya penumpukan lemak yang berlebihan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dimana energi yang dimasukkan jauh lebih tinggi dari energi yang dikeluarkan dalam waktu lama.2

Obesitas sendiri sebenarnya dapat didiagnosa dengan metode pengukuran Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh menggunakan berat badan terhadap tinggi badan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas. Cara mendapatkan IMT adalah berat badan seseorang (dalam kilogram) dibagi tinggi badan dikuadratkan (dalam meter). Tabel klasifikasi Indeks Massa Tubuh mempunyai 2 versi, yaitu versi World Health Organization (WHO) dan versi Nasional (PGN 2014). Pada Klasifikasi WHO, Obesitas dibagi menjadi 2 klasifikasi, Obesitas I dengan IMT 25 – 29.9 dan Obesitas II dengan IMT >30. Untuk Klasifikasi Nasional, gemuk dibagi menjadi 2 klasifikasi, Berat dengan IMT 25.1 – 27.0 dan Ringan dengan IMT >27.2,3

Obesitas masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang terjadi di Indonesia. Hal ini dibuktikan dari prevalensi obesitas di Indonesia yang masih saja meningkat, tidak hanya itu, Indonesia memasuki peringkat 10 besar negara dengan penduduk obesitas tertinggi di dunia.1 Epidemi obesitas sudah menjadi permasalahan kesehatan yang paling besar di seluruh dunia, pada tahun 2014, terdapat sekitar 1.9 miliar orang dewasa yang berusia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan dan dari angka tersebut, sekitar 600 juta orang mengalami obesitas.2 Peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia juga dapat dilihat oleh data yang telah diolah oleh RISKESDAS pada tahun 2013 dimana 28.7% penduduk mengalami obesitas IMT >25 dan 15.4% penduduk mengalami obesitas IMT >27 dan 3 tahun kemudian SIRKESNAS mendata ulang dan terlihat peningkatan data obesitas pada penduduk Indonesia meningkat ke 33.5% untuk penduduk dengan obesitas IMT >25 dan 20.7% untuk penduduk dengan obesitas IMT >27 pada tahun 2016.2

Obesitas merupakan penyakit yang memiliki banyak faktor penyebab sehingga termasuk dalam penyakit multifaktor. Penyebab pertama ialah faktor genetik, jika salah satu orangtua merupakan penderita obesitas maka peluang untuk anaknya mendapat obesitas adalah 40% hingga 50%. Namun jika kedua orangtua adalah penderita obesitas, maka peluang tersebut meningkat lagi hingga 70% hingga 80% untuk anaknya menjadi obese. Tidak hanya genetik, faktor kedua yang dapat menyebabkan obesitas adalah faktor lingkungan. Untuk faktor lingkungan sangat subjektif kepada lingkungan-lingkungan yang berbeda, namun faktor tersebut dapat diklasifikasikan lebih jauh yaitu Pola Makan dan Pola Aktivitas Fisik.2

  • Pola Makan: seperti deskripsi obesitas, konsumsi asupan energi yang berlebihan dapat meningkatkan berat badan dan menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas. Ketidakseimbangan energi dapat disebabkan jika kita mengonsumsi jenis-jenis makanan dengan kepadatan energi yang tinggi seperti makanan tinggi lemak, gula dan garam.2 Selain itu juga, mempunyai jadwal makan yang tidak teratur dan tidak sarapan dapat meningkatkan risiko obesitas karena porsi untuk makan siang atau malam akan bertambah.6
  • Pola Aktivitas Fisik: sedentary lifestyle merupakan gaya hidup tanpa atau dengan minimal aktivitas fisik.4 Gaya hidup kurang gerak inilah dapat meningkatkan risiko obesitas secara besar karena energi yang dikeluarkan tidak maksimal sehingga terjadi ketidakseimbangan energi. Seseorang yang menerapkan sedentary lifestyle biasanya melakukan semua aktivitasnya sambil berbaring atau duduk.2

Dan akhirnya faktor terakhir yang dapat menyebabkan obesitas adalah faktor obat-obatan dan hormon. Faktor ini dapat dibahas lebih lanjut dengan memisahkan kedua faktor tersebut:

  • Obat-obatan: sering terjadi sebagai efek samping setelah mengkonsumsi obat untuk sebuah penyakit. Seperti obat-obatan jenis steroid yang biasa digunakan untuk terapi asma, osteoarthritis dan alergi, efek samping mengkonsumsi obat tersebut adalah meningkatnya nafsu makan dan jika digunakan dalam waktu panjang, dapat meningkatkan risiko obesitas.2
  • Hormon: terdapat beberapa hormon-hormon yang dihasilkan oleh tubuh kita dapat meningkatkan risiko obesitas. Contoh hormon-hormon tersebut adalah hormon leptin, ghrelin, tiroid, insulin dan estrogen. Hormon-hormon tersebut mempengaruhi nafsu makan, metabolisme dan distribusi lemak tubuh.2,5

    Obesitas dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) disebutkan bahwa orang dengan obesitas memiliki risiko 43% untuk mengidap Diabetes Melitus Tipe 2 dibandingkan orang dengan orang yang memiliki berat badan normal sebesar 8%. Selain diabetes, obesitas sendiri sering dikaitkan dengan keadaan inflamasi kronis tingkat rendah. Sel imun yang berlimpah di jaringan lemak tubuh akan teraktivasi oleh keadaan obesitas sehingga menyebabkan perubahan pada aktivitas dan jumlah dari sel imun itu sendiri yang pada akhirnya berhubungan dengan komplikasi metabolik, peningkatan risiko kanker, dan penyakit menular. Hipertensi, dislipidemia, stroke, dan penyakit jantung koroner juga merupakan bentuk komplikasi dari obesitas. Terdapat penelitian yang telah membuktikan bahwa setiap kenaikan 4 kg/m2 dari BMI seseorang, terdapat kemungkinan peningkatan 26% seseorang memiliki penyakit jantung koroner. Obesitas juga memiliki efek terhadap sistem pernafasan seseorang. Obstructive Sleep Apnoea (OSA) dan asma merupakan efek yang mungkin dapat terjadi yang berkaitan dengan keadaan obesitas. Penyakit umum lain yang sering dijumpai yang berkaitan dengan obesitas adalah NAFLD (Non-alcoholic fatty liver disease). Dalam kasus NAFLD yang telah berlanjut menjadi NASH (non-alcoholic steatohepatitis) ditemukan bahwa tingkat steatosis menjadi 65% pada penderita obesitas kelas 1 atau 2 dan 85% pada pengidap obesitas kelas 3.8

    Obesitas merupakan penyakit yang dapat kita cegah bersama untuk dapat terjadi. Dilansir dari website resmi P2PTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat 4 langkah yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya obesitas. Pertama, kita dapat mencegah terjadinya obesitas dengan mengonsumsi buah dan sayur dengan porsi minimal sebanyak 5 porsi setiap hari. Kedua, konsumsi gula maksimal 4 sendok makan, garam maksimal 1 sendok teh, dan lemak maksimal 5 sendok makan. Ketiga, melakukan aktivitas fisik secara teratur. Keempat, menjaga berat badan ideal.9 Pencegahan obesitas dapat dilakukan dengan mengatur pola makan menggunakan “Isi Piringku”. “Isi Piringku” sendiri terdiri dari 5 kelompok pangan dengan pembagian ⅔ dari setengah piring ialah makanan pokok dan sayuran, serta ⅓ dari setengah piring berisi lauk pauk dan buah.10

Referensi:

  1. Unknown author. Indonesia masuk 10 besar obesitas tertinggi [Internet]. Yogyakarta: Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia; 2019 [cited 2021 Feb 15]. Available from: https://kebijakankesehatanindonesia.net/25-berita/berita/139-indonesia-masuk-10-besar-obesitas-tertinggi
  2. P2PTM Kemenkes RI. Epidemi obesitas [Internet]. Indonesia: Kemenkes RI. Available from: http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/N2VaaXIxZGZwWFpEL1VlRFdQQ3ZRZz09/2018/02/FactSheet_Obesitas_Kit_Informasi_Obesitas.pdf
  3. P2PTM Kemenkes RI. Klasifikasi obesitas setelah pengukuran IMT [Internet]. Indonesia: Kemenkes RI; 2018 Nov 07 [cited 2021 Feb 15]. Available from: http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/klasifikasi-obesitas-setelah-pengukuran-imt
  4. 2018 Physical Activity Guidelines Advisory Committee Scientific Report; Sedentary Behaviour. 18 Feb 2019. 2(F).
  5. Unknown authorObesity and hormones [Internet]. Better Health Channel; 2016 Apr [cited 2021 Feb 15]. Available from: https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/obesity-and-hormones#:~:text=The%20hormones%20leptin%20and%20insulin,the%20accumulation%20of%20body%20fat.
  6. P2PTM Kemenkes Ri. Penyebab obesitas pola makan [Internet]. Indonesia: Kemenkes RI; 2020 Jul 30 [cited 2021 Feb 15]. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/page/5/penyebab-obesitas-salah-satunya-adalah-dari-pola-makan
  7. Unknown author. The health effects of overweight and obesity [Internet]. CDC; 2020 Sep 17 [2021 Feb 15]. Available from: https://www.cdc.gov/healthyweight/effects/index.html
  8. D Kinlen, D Cody, D O’Shea. Complications of obesity. QJM: An International Journal of Medicine [Internet]. 2018 Jul [cited 2021 Feb 15]; 111(7): 437-443. Available from: https://academic.oup.com/qjmed/article/111/7/437/4016386
  9. P2PTM Kemenkes RI. Cegah dan kendalikan obesitas dengan gaya hidup sehat [Internet]. Indonesia: Kemenkes RI; 2018 Nov 09 [cited 2021 Feb 15]. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/cegah-dan-kendalikan-obesitas-dengan-gaya-hidup-sehat
  10. P2PTM Kemenkes RI. Pencegahan obesitas dengan pola makan [Internet]. Indonesia: Kemenkes RI; 2020 Nov 23 [cited 2021 Feb 15]. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/pencegahan-obesitas-dengan-pola-makan

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
CIMSA UI

CIMSA UI

Tinggalkan Komentar

Ikuti Mediscene:

Paling Populer

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.

Kategori

On Key

Related Posts

Obesitas, Musuh Utama Manusia!

Obesitas merupakan penyakit yang masuk dalam kategori Penyakit Tidak Menular atau Non-Communicable Disease. Non-Communicable Disease sendiri adalah penyakit yang tidak dapat tertular dari satu orang

Baca Lebih Lanjut »
Uncategorized

Depresi di Kala Pandemi

By: Trisha Rahmi Dian Reswara – Anggota CIMSA UI 2020-2021 Depresi adalah gangguan mood dimana seseorang merasakan kesedihan yang mendalam serta kehilangan minat terhadap suatu

Baca Lebih Lanjut »
COVID-19

Pakai Masker Kain

Pemerintah telah menghimbau seluruh masyarakat Indonesia. Jika sehat tapi terpaksa keluar rumah, maka dianjurkan menggunakan masker. Dan pilihan maskernya adalah masker kain. Himbauan ini berdasarkan

Baca Lebih Lanjut »

Info terkini tentang COVID-19